Reading Time: 4 minutes

Selalu menarik ketika kita berbicara tentang Singapura, terlebih belakangan ini harga penerbangan ke negara tetangga ini banyak sekali digandrungi promo.

Berbagai atraksi yang ditawarkan oleh negara ini pun sangat modern, seperti teknologi canggih, transportasi umum yang terorganisir, warganya yang tertib, pelayanan yang prima, lalu apa lagi? Tentu berkunjung lebih dari sekali pun bukan masalah. 

Hanya saja, kamu mungkin butuh ide baru yang cemerlang untuk mencari pengalaman yang tidak itu-itu saja. Di luar dari pandangan bahwa Singapura begitu menarik dengan bangunan-bangunan yang futuristik, tahukah kamu bahwa sebenarnya negara ini memperkenalkan diri sebagai wilayah dengan diversitas budaya?

Selain atraksi-atraksi seru seperti Universal Studios Singapore, Gardens by the Bay atau museum penuh spot foto #Instagramable di Art Science Museum, ada lebih banyak lagi yang bisa kamu kunjungi di negara ini. Mencintai suatu negara bisa ditempuh melalui budayanya. Jika belum yakin tentang budaya Singapura itu apa, Klook akan menginspirasi kamu dengan ulasan berikut ini:

1. Melenggang ke desa nelayan terakhir yang masih tersisa

Negara termaju di Asia Tenggara ini mulanya hanyalah sebuah desa tradisional di mana warganya yang disebut ‘Orang Laut’ bermata pencaharian sebagai nelayan. Jika kamu tidak begitu percaya, Seletar Fishing Village akan membuktikannya. Desa ini dikelilingi oleh hutan mangrove, tepatnya terletak di antara Yishun Ave 1 dan Pulau Punggol Barat.

Di Seletar Fishing Village, waktu terasa terhenti. Saat wilayah lain di Singapura memodernisasi dirinya dari tahun ke tahun, desa ini tampak tak beranjak dan tidak terpengaruh oleh cepatnya waktu berlalu. Kamu masih akan menemukan rumah-rumah apung yang terbuat dari kayu, dermaga kecil, hingga gubuk-gubuk yang digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil laut.

Pun saat kamu masih mau mengeksplor lokasi lebih dari satu: Changi Village. Nelayan-nelayan di kampung ini konon menolak untuk direlokasi. Mereka sudah menyatu dengan laut dan apa yang ditawarkannya. Hidup mencari kepiting dan ikan kecil kemudian memasaknya menjadi barbekyu adalah sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

2. Oleh-oleh adalah refleksi budaya dari tangan-tangan ahli

Apa oleh-oleh yang kamu bawa sepulangnya dari Singapura? Pasti makanan pop. Mungkin pernah terbesit di benak kamu untuk cari oleh-oleh tradisional, tapi apa ya?

Wajar kalau pada akhirnya yang kamu bawa adalah makanan populer lagi, atau pun barang-barang industri terkini. Sedikit sulit menemukan barang khas Singapura karena produksinya pun tidak mudah. Ginger City Batik, Royal Ming Porcelain, serta obat herbal Eu Yang Sang dan Tiger Balm adalah beberapa barang asli buatan Singapura. 

Pecinta makanan manis juga harus tahu tentang Biscuit King, yakni toko yang membuat kamu menemukan jajanan manis khas Singapura hingga permen-permen bertema retro. Bagi yang mencari teh khas negara ini, TWG Tea bisa jadi teman untuk disandingkan dengan camilan kamu sesampainya di rumah. Kemasannya yang menarik pun cocok untuk dijadikan suvenir untuk orang-orang terkasih.

Selanjutnya adalah galeri suvenir terkenal yang dinamai Supermama, pendirian dan pengembangannya didukung oleh desainer-desainer Singapura yang dedikatif. Inilah tempat untuk mencuci mata dengan barang-barang keramik yang didesain klasik, mayoritas dilukis dengan simbol, corak dan ikon-ikon yang identik dengan negara ini.

Kalau kamu masih mencari yang lainnya, Singapore Handicraft Centre di Chinatown Point bisa jadi tempat kamu berburu barang-barang antik khas Singapura yang diberi sentuhan budaya Cina. Namun jangan sampai keliru ya.. karena beberapa barang kerajinan diimpor juga dari Indonesia dan Malaysia.

3. Bercengkrama dengan penduduk setempat melalui ekowisata

Saat sebuah daerah sudah terlalu modern dan canggih, ekowisata justru menjadi sesuatu yang fancy. Di antara kepungan gedung-gedung tinggi dan menara yang arsitekturnya mengagumkan, di mana kamu masih bisa menikmati alam Singapura yang masih natural? 

Pulau Ubin jawabannya. Ini adalah kawasan hutan bakau yang masih asri dan mampu menghadiahi kamu dengan ketenangan. Suasananya yang begitu hening sehingga yang terdengar hanyalah suara gesekkan daun dan kicauan burung yang saling bersautan. Sesekali, kamu akan mendengar gemericik air rawa atau bahkan melihat sekelompok berang-berang jika beruntung. Nah, di sinilah kamu bisa bertualang menggunakan kayak sambil meresapi alam Singapura di sekitarnya.

Jika kamu enggan basah-basahan, sebagai alternatif, ada kegiatan bersepeda di Pulau Ubin yang juga bisa kamu manfaatkan. Sambil mengayuh sepeda, kamu akan melintasi rumah-rumah penduduk setempat dan disapa oleh mereka. Pada momen inilah kamu akan benar-benar merasakan hal yang berbeda dari Singapura, di tempat yang tak banyak dijangkau oleh mayoritas wisatawan. Terlebih, kamu akan bertemu dengan satwa unik seperti biawak air Malaya, burung enggang, babi hutan dan monyet-monyet nakal di sepanjang perjalanan.

4. Workshop yang membuat kamu mengagumi talenta warga lokal 

Workshop adalah konteks pembelajaran yang melibatkan seni dan antropologi, namun metode ini efektif sebagai atraksi wisata untuk memperkenalkan budaya. Melalui workshop, para seniman dapat belajar tentang ragam harapan wisatawan, sementara wisatawan akan merasa lebih menyatu dengan budaya yang mereka pelajari.

Sejatinya, banyak sekali kelas workshop di Singapura yang bisa mengembangkan kreatifitas kamu. Jika kamu tertarik akan seni tembikar dan penasaran dengan seni khas Singapura, ikuti Workshop Tembikar Dragon Kiln ini. Ada pun Art Jam Session yang membawa kamu pada sehari penuh bermain dengan cat akrilik, kegiatan ini dipercaya memiliki manfaat terapi untuk menyemangati jiwa melalui seni.

Beranjak ke sebuah workshop yang menghubungkan kamu dengan makanan, ayo ikuti Gin and Food Pairing Workshop. Kamu akan belajar tentang minuman gin secara menyeluruh, termasuk mencicipi gin dari seluruh negara Asia seperti Thailand, Vietnam dan tentunya Singapura. Dipandu oleh bartender ahli, ketahui caranya mengeluarkan rasa unik gin dari berbagai makanan peranakan: Otak-Otak, Laksa Singapura, dan Nasi Ayam Hainan!

5. Hadir di acara musik yang menampilkan musisi setempat

Apakah maksudnya konser Coldplay, Maroon 5 atau BTS? Tentu bukan! 

Meskipun acara-acara musik di Singapura didominasi oleh konser musisi internasional dan genre Electronic Dance Music (EDM), kamu sebenarnya punya pilihan lain, Singapore International Jazz Festival misalnya. Acara ini biasanya berlangsung setiap tahun di Sentosa Island, menampilkan musisi Singapura juga dan didedikasikan bagi mereka pecinta jazz maupun blues. 

Jika kamu fans berat musik alternatif, Baybeats harus masuk ke rencana kamu. Ini adalah festival musik alternatif terbesar di Singapura yang mencakup genre folk, pop, metal, post-rock, emo, punk dan elektro. Belakangan ini, genre hip hop dan rap pun juga mendapatkan tempatnya.

6. Kini giliran festival budaya yang bicara

Last but not least, festival budaya adalah atraksi pamungkas yang bisa membuat kamu mengenal budaya Singapura. Dimulai dari yang bersinggungan dengan kuliner, ada Singapore Food Festival di mana kamu bisa menemukan kuliner tradisional hingga yang makanan telah diinovasikan.  Festival ini sekaligus menjadi wadah bagi kamu yang penasaran dengan cita rasa kuliner Peranakan, Chinese dan Melayu. 

Momen kunjungan kamu akan lebih pas jika bertepatan dengan diselenggarakannya Hungry Ghost Festival. Atau, kamu pun bisa sengaja traveling ke Singapura untuk menyaksikan festival unik ini. Berakar dari budaya Buddha dan Taoist, Hungry Ghost Festival berlangsung setiap bulan ketujuh pada penanggalan kalender lunar. Sama seperti makna perayaan Halloween, inilah saat di mana jiwa orang-orang mati berkeliaran di bumi. Mereka dipercaya melakukan hal-hal yang akan membahayakan manusia sehingga perlu dilakukan berbagai macam persembahan.

Jika mencari festival yang melibatkan seni dan musik, Huayi Festival yang diselenggarakan di Esplanade bisa menjadi referensi. Festival ini pas untuk mewarnai liburan Tahun Baru Imlek kamu karena segala hal yang dipersembahkan untuk merayakan Chinese New Year.

Facebook Comments